Selamat datang di desaindarihati.com, blog ini membahas topik seputar dunia arsitektur dan desain interior modern dan kontemporer.

Anda tertarik menyumbang tulisan? klik disini

21 February
2009

Pertama kali mendapatkan informasi untuk mendesain proyek ini, saya sangat bersemangat sekali. Selain karena memang lokasinya strategis, juga konsep yang diinginkan oleh klien adalah bangunan kolonial Batavia seperti bangunan-bangunan yang ada di daerah Jakarta Kota, dimana saya sangat mengagumi dan mencintai bangunan-bangunan kuno dan klasik. Jadi seperti mendapat ‘durian runtuh’, saya langsung mengambil kesempatan untuk mendesain.

Lokasi tapak keseluruhan seluas 3000m2 berada di ‘hoek’ yang mempunyai kantong disebelah kanan jalan seluas 600m2. Sementara bangunan lama yang merupakan bekas apartemen expatriat masih dipertahankan struktur fisiknya tepat berada di sepanjang badan jalan.

Bangunan existing yang ada akan dibuat ‘guest house’ untuk para expatriat dimana pada bagian lantai dasar (sekitar 3 m dibawah permukaan jalan) akan digunakan sebagai area ‘cultural exchange’ antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Belanda dan Negara lainnya. Karena memang sasaran yang dituju adalah orang-orang Belanda dan orang asing yang ingin mengingat masa lalu atau ingin mempelajari kebudayaan Indonesia. Maka dari itu, saya berusaha merenovasi tampak bangunan existing dengan memasukkan gaya kolonial Batavia dengan mengadaptasi bangunan museum fatahilah. Saya menambahkan kanopi untuk penutup area cultural exchange dengan kolom-kolom ganda dan architrave lengkung ciri dari museum fatahilah.

Lantai 1 sampai 3 digunakan sebagai unit guest house. Dimana saya menambahkan atap jurai 45% pada bagian atap dak lantai 2 untuk digunakan sebagai unit guest house dengan gaya ‘attic’, dengan jendelah ‘bird cage’ nya yang sangat popular pada bangunan klasik-kolonial.

Adapun untuk lokasi tanah yang 600 m2 yang berada di sisi sebelah kanan jalan didesain unit-unit apartemen yang akan dijual. Juga fasad bangunan saya mengadopsi bangunan-bangunan kolonial Batavia yang ada di daerah Jakarta Kota, terutama kolom-kolom besi yang lengkung menyangga kantilever lantai 1 yang mempunyai bukaan jendela besar dan mempunyai daun jendela ganda (kaca dan krepyak). Dimana bisa dilihat pada bangunan café Batavia di depan museum Fatahilah.

Secara keseluruhan desain bangunan guest house dan apartemen di kemang ini akan memberikan nuansa baru untuk kawasan yang memang dipadati oleh kalangan expatriat tersebut. Dan mungkin akan menjadi suatu ‘icon’ baru sebagai bangunan yang memberikan kenangan Jakarta ‘tempo doeloe’.

Existing Photo of Kemang's ProjectExisting Photo of Kemang's ProjectCollonial Hotel DesignCollonial Hotel DesignCollonial Hotel DesignCollonial Hotel Design

19 September
2008

Proyek ini menempati luas lahan 2500m2 dengan bentuk memanjang kebelakang yang menghubungkan antara 2 buah jalan utama di daerah Lenteng Agung. Karena lokasinya merupakan daerah resapan, maka izin KDB nya hanya dilperbolehkan 20% dan maksimum tinggi bangunan 2 lantai. Disini tantangan dalam mendesain dimulai karena kebutuhan ruang dari klien menginginkan pemanfaatan lahan yang maksimal (lebih dari 60%), luas perlantai 1000m2 dan ruang parkir dan hijau yang cukup.

Dari awal, klien menginginkan gedung ini sebagai gedung toko buku yang berhubungan dengan kantor penerbitan dan mempunyai suatu restoran franchise yang besar untuk menarik konsumen ke toko buku Leksika. Berdasarkan fakta tersebut diatas, saya berusaha mengakomodir semua aturan dari pemda dan kebutuhan dari klien.

Bagian dasar bangunan tetap dibuat 20% dari total lahan, adapun ketinggian bangunan yang diizinkan untuk bangunan 2 lantai adalah 9m sebelum garis bawah atap,  dibuatkan ‘mezzanine’ antara lt dasar dan lt 2, dan garis kemiringan atap dimanfaatkan untuk ruang ‘attic’, jadi total lantai yang bisa dimanfaatkan adalah 4 lantai tanpa melanggar ketentuan dari pemda. Dan dalam mensiasati untuk penambahan luas lantai, pada lantai 2 dan ‘attic’ dibuatkan jembatan penghubung yang cukup besar dan dibuatkan ‘cantilever’ selebar 1,2m (batas yang diizinkan oleh pemda) pada tiap sisi bangunan diatas lantai dasar (lantai ‘mezzanine’ keatas). Hasil dari itu semua, gedung ini akhirnya mendapatkan luas lantai yang maksimum, yaitu lebih kurang 2500m2.

Karena bangunan ini terdiri dari 2 buah massa dan berdiri bebas (free standing) ditengah lahan, maka bangunan ini dengan sendirinya mempunyai 8 tampak (fasad) yang masing2 fasad harus diolah untuk menjadi satu kesatuan yang dinamis, modern, efisien dan mencerminkan perusahaan penerbitan yang kokoh dan solid. Gedung ini mempunyai bukaan cahaya yang sangat besar, sehingga bila pada siang hari, tidak banyak cahaya buatan yang diperlukan, sedangkan pada malam hari gedung ini terlihat seperti ‘aquarium’ karena seluruh kegiatan toko buku dapat terlihat dengan jelas dari 2 jalan yang mengapit lahan gedung Leksika.

190913051517leksika project 2 - designleksika 1 - designleksika 2 - designleksika project - beforeleksika project 4 - designleksika project 3 - designleksika project 1 - designleksika project 5 - designleksika project axonometri - designleksika project axonometri 2nd attic floor - designleksika project axonometri 1st floor - designleksika project axonometri mezzanine floor - designleksika project axonometri ground floor - designleksika project axonometri basement - design

17 September
2008

Bermula dari permintaan salah satu jajaran managerial developer Taman Serua yang merupakan teman SMA dahulu untuk membantu mem’face lift’ rumah-rumah type kecil di perumahannya. Setelah melihat perkembangan penjualan yang cukup menggembirakan dari hasil desain ‘face lift’ tadi, owner akhirnya mempercayakan saya untuk mengembangkan desain pada lahan bagian belakang dari perumahan existing seluas 7.5 ha. Konsep desain yang dibuat untuk perumahan tersebut pada awalnya adalah system cluster dengan 4 tahapan pembangunan cluster. Tapi setelah menyesuaikan dengan permintaan pasar dan situasi terbaru di pasaran, maka konsep desain dari Masterplan nya adalah ‘grid system’.

‘Grid System’ yang diterapkan pada perumahan Taman Serua ini adalah menempatkan daerah terbuka dan fasilitas umum/sosial tepat ditengah-tengah lahan yang merupakan ‘vocal point’ dan pusat kegiatan/’melting point’ pada perumahan ini. ROW jalannya pun dibuat yang paling besar 10m pada daerah tengah, kemudian 8m kesisi luar dan 7m pada sisi paling luar yang tentunya menempatkan rumah type besar (64 dan 56) pada bagian tengah, rumah type sedang dan type kecil (48, 36 dan 30) pada lapisan berikutnya kearah sisi terluar.

Untuk konsep tampak rumah perumahan ini, saya mencoba membuat pendekatan desain dari Modern Art Deco. Hal ini saya lakukan karena dengan maraknya desain minimalis untuk rumah-rumah di Jakarta, kecenderungan orang akan cepat merasa jenuh dan bosan. Karenanya dengan adanya unsur klasik yang saya gunakan pada sebagian tampak tiap rumah, hasil yang didapatkan adalah rumah yang modern yang mempunyai ‘bobot’ yang cukup kuat meskipun untuk type rumah kecil.
Secara keseluruhan, memang desain perumahan ini lebih kearah Art Deco dengan batu alam yang dipasang pada bagian dasar bangunan dan kantilever dari atap utama yang terbuat dari beton untuk rumah type 64 dan 56. Kesan kokoh, sejuk dan modern sangat terasa pada desain tiap rumah di perumahan Taman Serua ini.

TAMAN SERUA2 MAP - designTAMAN SERUA2 1 - design - type 64TAMAN SERUA2 type 64 128 - designTAMAN SERUA2 2 - designTAMAN SERUA2 KINDERGARDEN - designTAMAN SERUA2 CLUB HOUSE - designTAMAN SERUA2 5 - designTAMAN SERUA2 1 type 56 112 - designTAMAN SERUA2 2 type 56 112 - designTAMAN SERUA2 1 type 42 90 - designTAMAN SERUA2 2 type 42 90 - designTAMAN SERUA2 1 type 36 84 - designTAMAN SERUA2 2 type 36 84 - designTAMAN SERUA2 1 type 29 79 - designTAMAN SERUA2 2 type 29 79 - design